Misteri Desa Trunyan Bali

GambarDi posting kali ini saya akan memposting mkisteri asal-muasal desa Trunyan, Bangli, Bali yang terkenal dengan makamnya. Alkisah pada suatu hari beberapa abad yang lalu di puri dalem Solo, di pulau Jawa tercium bau yang harum sekali. Bau harum yang luar biasa tersebut menarik perhatian empat orang anak dalem Solo untuk mengembara mencari sumbernya.

Dalam pengembaraan itu akhirnya mereka tiba di pulau Bali. Setibanya di kaki selatan gunung Batur, anak dalem Solo yang wanita berkeputusan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Ketiga saudara laki-lakinya melanjutkan pengembaraan mereka menyusuri tepi danau Batur.

Waktu mendengar suara burung karena kegirangan, saudara termuda mereka berteriak. Perbuatan tersebut membuat kakak tertuanya marah, kakaknya menendangnya sampai jatuh bersila.

Sesudah meninggalkan adiknya, kedua saudara tersebut melanjutkan perjalanan. Oleh karena sangat senang bertemu dengan manusia, anak kedua dari saudara itu menyapa orang tersebut.Kelakuan adiknya tersebut membuat si kaka tidak senang, akhirnya ditinggalkan adiknya di tempat tersebut.

Setelah meninggalkan adik-adiknya di desa-desa itu, putra dalem Solo yang sulung melanjutkan perjalanannya ke arah utara. Akhirnya ia tiba disebuah dataran tempat ditemukannya seorang Dewi yang teramat menggiurkan hati mudanya. ewi ini pada waktu ditemukan berada di bawah pohon taru menyan, sumber bau harum tersebut.yang dicari selama ini. Perasaan birahi jejakanya segera bangkit dan diluar kekuasaannya lagi sang Dewi segera disenggamai.Setelah tersalurkan birahinya, si pemuda petualangan itu pergi menghadap kaka sang Dewi untuk meminang adiknya.Kakaknya menyetujui, akhirnya mereka pun menikah.

Setelah usainya upacara perkawinan mereka,tempat yang mereka diami berangsur-angsur berkembang menjadi kerajaan. Kemudian karena khawatir kerajaan mereka itu akan diserang oleh orang luar, yang terpesona bau semerbak yang keluar dari pohon taru menyan tersebut, maka sang permaisuri memerintahkan untuk menghilangkan bau semerbak itu. Caranya Ia memerintahkan agar jenazah-jenazah orang Trunyan untuk selanjutnya tidak lagi dikebumikan,melainkan dibiarkan membusuk di bawah udara terbuka.Itulah sebabnya, maka sejak itu, desa Trunyan tidak lagi mengeluarkan bau semerbak yang mempesonakan,namun sebaliknya jenazah-jenazah penduduk yang dibiarkan membusuk di udara terbuka di daerah pemakaman sema Wayah tidak mengeluarkan bau busuk.

Kisah Versi Kedua

Dikisahkan, bau harum taru menyan, memancing Ratu Gede Pancering Jagat mendatangi sumber bau. Di sekitar pohon-pohon hutan cemara Landung, beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit [Ratu Ayu Dalem Dasar]. Mereka kemudian menikah dan disaksikan oleh penduduk Desa Hutan Landung yang sedang berburu. Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede mengajak penduduk Desa Cemara Landung untuk membuat desa yang bernama Taru Menyan dan lama kelamaan terkenal menjadi Trunyan. Itulah asal kata Trunyan.

Akibat adanya Ratu Pancerin jagad, maka masyarakat Trunyan percaya bahwa desanya menjadi satu-satunya desa di dunia ini yang anti gempa. Menurut cerita si tukang boat, Beberapa waktu yang lalu ada gempa yang terjadi di Seririt, Singaraja yang juga dirasakan oeh penduduk kintamani, namun tidak dirasakan di trunyan. Tanda adanya gempa disekitarnya dapat dilihat penduduk Trunyan melalui pancaran mata air yang keluar tidak lurus keluarnya namun bergoyang2.
Yup, itulah dunia, banyak sekali keanehanya.

Trunyan merupakan satu dari tiga Suku Bali asli [Bali Aga], yaitu suku yang ada dibali sebelum Jaman Majapahit dan sebelum gelombang pengungsian warga kerajaan Majapahit terakhir yang menolak menjadi Muslim [hijrah ke Bali]. Dua suku Bali asli lainnya adalah Suku Tenganan di Karang Asem [Smarapura] dan Suku Yeh Tipat di Singaraja. Trunyan termasuk di lingkup Kabupaten Bangli.

Suku Trunyan, punya tiga cara unik menangani mayat, diupacarai yang setara dengan upacara ngaben di tempat lain:

Untuk yang meninggal adalah Bayi, maka mayatnya dikubur, lokasinya disebut Sema Muda, kira-kira 200 meter-an ke sebelah kanan lagi namun sebelum desa trunyan dari arah sekarang ini.

Untuk yang meninggal adalah orang yang kecelakaan, dibunuh atau bukan karena mati normal. Maka mereka anggap itu mempunyai kesalahan besar. Lokasi mereka dikubur [Sema bantas] adalah di perbatasan antara desa Trunyan dan Desa abang. Letaknya Jauh dari tempat kami sekarang.

Untuk yang mati normal, Mayat mereka diberi kain putih dan hanya diletakan di bawah Taru Menyan [Pohon wangi]. Maksudnya mati normal adalah tidak punya salah/kesalahan sesuatu, di luar kreteria di atas.

Mayat itu diletakkan di atas tanah dengan lubang yang sangat dangkal [kira-kira 10 – 20 cm]. Tujuannya supaya tidak bergeser-geser [karena bidang tanah di tempat itu tidaklah dapat disebut datar]. Jumlah maksimum mayat yang diperkenankan ada di bawah pohon taru menyan adalah 11 mayat. Alasannya adalah mayat yang ke 12 dan seterusnya, akan berbau. Baunya kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak.

Bisa jadi itu disebabkan keterbatasan bau yang dapat diserap oleh taru menyan tersebut, yaitu kurang lebih sekitar 11 x 60 kg [asumsi berat rata-rata mayat] = 660 kg. Sehingga untuk menyerap mayat berikutnya menjadi tidak maksimal.

Gambar

 

8 SAKA PRAMUKA YANG BERLAKU DI NASIONAL

Satuan Karya Pramuka (Saka)
adalah wadah pendidikan guna
menyalurkan minat,
mengembangkan bakat dan
pengalaman para pramuka
dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Satuan Karya diperuntukkan
bagi para Pramuka Penggalang
Terap, Pramuka Penegak dan
Pandega, dan para pemuda
usia 14-25 tahun dengan syarat
khusus. Setiap Saka memiliki
beberapa krida, dimana setiap
Krida mengkususkan pada sub
bidang ilmu tertentu yang
dipelajari dalam Satuan karya
tersebut. Setiap Krida memiliki
SKK untuk TKK Khusus saka yang
dapat diperoleh Pramuka yang
bergabung dengan Krida
tertentu di sebuah Saka.
Satuan Karya Pramuka juga
memiliki kegiatan khusus yang
disebut Perkemahan Bhakti
Satuan Karya Pramuka
(PERTISAKA) yang
dilaksanakan oleh tiap-tiap
saka dan kegiatan yang
dilaksanakan secara bersama-
sama lebih dari satu saka yang
disebut perkemahan antar saka
(PERAN SAKA) dimana
dimungkinkan tiap saka
mentranfer bidang keilmuan
masing-masing. Bagian terkecil
dari saka disebut krida,
Satuan Karya Pramuka yang
dulu ada 7, pada saat ini satu
lagi satuan karya pramuka yang
dibentuk adalah satuan karya
pramuka Wira Kartika yang
merupakan hasil kerja sama
Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka dengan Mabes TNI
Angkatan Darat, sehingga
satuan karya pramuka pada
saat ini ada 8. Yaitu :
1. Saka Dirgantara (TNI-AU)
2. Saka Bahari (TNI-AL)
3. Saka Bhayangkara (POLRI)
4. Saka Taruna Bumi (Menteri Pertanian)
5. Saka Bhakti Husada (Dinas Kesehatan)
6. Saka Kencana (Keluarga Berencana)
7. Saka Wanabhakti (Dinas Kehutanan)
8. Saka Wira Kartika (TNI-AD)
SAKA2

Sejarah Singkat Berdirinya Saka Bhayangkara Dan Krida-kridanya

Salam Pramuka !
Satuan Karya Pramuka
Bhayangkara dibentuk pada
tahun 1996 dan pada tahun
tersebut masih bernama
Pramuka
KAMTIBMAS (Keamanan
Ketertiban Masyarakat).
Pembentukan tersebut atas
instruksi bersama MENTRI /
PANGLIMA POLISI DAN
KAKWARNAS : NO. POL. : 28/
Inst. /MK/1996 dan SK
KWARNAS No. 4 /1996
tertanggal : 1 Juli 1996, dengan
nama PRAMUKA KAMTIBMAS.
Pada waktu itu terdapat
sembilan krida, yaitu :
1. Krida LANTAS (Lalu Lintas)
2. Krida PMK (Pemadam
Kebakaran)
3. Krida SAR (Searce And
Rescue)
4. Krida TPTKP (Tindakan
Pertama Tempat Kejadian
Perkara)
5. Krida SISKAMLING (Sistem
Keamanan Lingkungan)
6. Krida PENGAWAL
7. Krida PELACAK
8. Krida KOMLEK
9. Krida PENGAMAT
Pada tahun 1980 dikeluarkan
surat keputusan atas kerja
sama Kepolisian Negara
Republik Indonesia (POLRI)
dengan
KAKWARNAS yaitu :
NO. POL. SKEP / 08 / V / 1980
dan SK KWARNAS No. 050 /
1980
tertanggal : 1 Juli 1980,
bernama SATUAN KARYA
BHAYANGKARA.
Ditahun 1980 pembentukan
krida masih mengikuti Sembilan
krida, baru pada tahun 1990
dikelurkan surat keputusan dari
KAKWARNAS melewati : SK
KWARNAS No. 032 / 1990
terdapat tujuh krida, yaitu :
1. Krida LANTAS (Lalu Lintas)
2. Krida PMK (Pemadam
Kebakaran)
3. Krida SAR (Searce And
Rescue)
4. Krida TPTKP (Tindakan
Pertama Tempat Kejadian
Perkara)
5. Krida SISKAMLING (Sistem
Keamanan Lingkungan)
6. Krida PENGAWAL
7. Krida PELACAK
Pada tahun 1991 jumlah krida
yang ada dipersingkat lagi
menjadi lima krida, yaitu :
1. Krida LANTAS (Lalu Lintas)
2. Krida PMK (Pemadam
Kebakaran)
3. Krida SAR (Searce And
Rescue)
4. Krida TPTKP (Tindakan
Pertama Tempat Kejadian
Perkara)
5. Krida SISKAMLING (Sistem
Keamanan Lingkungan)
Setelah itu pada tahun 2006
berdasarkan Surat Keputusan
Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia NO. POL.
SKEP / 595 / X / 2006
tertanggal 4 Oktober 2006
jumlah krida dipersingkat lagi
menjadi 4 krida, yaitu :
1. Krida LANTAS (Lalu Lintas)
2. Krida PPB (Pencegahan dan
Penanggulangan Bencana)
{Gabungan dari Krida PMK
(Pemadam Kebakaran) dan
Krida SAR (Searce And
Rescue)}
3. Krida PTKP (Pengetahuan
Tempat Kejadian Perkara)
4. Krida TIBMAS (Ketertiban
Masyarakat)
Demikian sejarah singkat
Satuan Karya Bhayangkara dan
pada setiap tanggal 1 Juli
diperingati sebagai hari ulang
tahun
SAKA BHAYANGKARA yang
bertepatan dengan hari ulang
tahun BHAYANGKARA.
Sumber : http://
bhayangkaratanjabbarat.
wordpress.com/sejarah-singkat-
berdirinya-saka-bhayangkara/